Hobnail

[Langkah Sepatu But]

Crystal Arbogast

Story-Hobnail-150x225Fannie duduk bersila di depan beranda rumah paman John, dengan satu lengan mengapit boneka kesayangannya. Cahaya senja bersinar melalui celah-celah dedaunan pohon ek, dan menerangi beranda rumah pamannya. Sinarnya yang berwarna keemasan membuat Fannie terpesona dan duduk terpaku dengan wajah menengadah ke atas seolah terhipnotis oleh keindahannya. Bisikan percakapan terdengar mengalir dari dalam rumah.

“Ellen, aku senang kau dapat datang ke gereja bersama kami hari ini. Bagaimana kalau sekalian menginap saja di sini? Sekarang sudah sangat sore dan sebentar lagi hari akan gelap.”

“Tenang saja, Sally. Aku akan baik-baik saja,” jawab ibu Fannie. “Lagipula, kau tahu sendirilah bagaimana sifat Lige. Aku memang telah memasakkan makanan untuknya dan anak-anak, tapi dia pasti tetap ingin aku dan Fannie hadir di meja makan. Ditambah lagi, dia pasti ingin tahu apakah istri Sam Bosworth berhasil memaksa suaminya datang ke gereja.”

Gelak tawa pun menggema dan memecahkan lamunan Fannie. Dia akhirnya berdiri, meluruskan roknya, lalu masuk ke dalam rumah.

“Ambil syalmu, Fannie. Setelah matahari terbenam, udara akan mulai dingin.”

Saat gadis kecil itu hendak meraih syalnya yang diletakkan di atas kursi dekat perapian, pamannya datang dari belakang dengan membawa lentera.

“Bawalah ini, Ellen. Sumbunya baru, dan minyaknya sudah kuisi penuh.”

“Terima kasih, Johnny,” ujar Ellen. “Nanti akan kuminta Lige untuk mengembalikannya ketika dia pergi ke kota minggu depan.”

Ellen mencium dan mengucapkan selamat tinggal kepada adiknya, Johnny, lalu memeluk Sally dengan lembut. Sambil mengusap perut Sally yang membuncit, dia berkata, “Akhir bulan nanti aku akan kembali lagi. Jangan banyak mengangkat beban yang berat. Kalau kau terus merasa mual, seduh teh mint yang kutinggalkan di dapur. Aku belum pernah melihat ibu hamil yang terus-terusan merasa mual sepertimu. Pasti bayimu laki-laki.”

Mendengar hal ini, kening Fannie jadi mengkerut. Dia terlahir sebagai anak bungsu, dan satu-satunya anak perempuan dalam keluarganya. Karena hidup dengan empat saudara laki-laki, dia selalu berdoa kepada Tuhan agar Dia memberikan bibinya anak perempuan. Satu-satunya teman bermain Fannie hanyalah boneka yang dibuatkan ibunya. Dengan satu lengan mengapit boneka kesayangannya, dan memakai syal dengan tangan yang sama, Fannie menunggu ibunya dengan sabar. Bibi Sally mengecup pipinya dengan lembut lalu memeluknya dengan pelan. “Kalau bibi mendapatkan anak perempuan, bibi berdoa semoga nanti dia semanis dirimu,” bisik bibinya. Paman John mengusap kepala Fannie dan berkata, “Dah, anak manis. Kalau induk kucing paman sudah melahirkan, nanti paman akan memberikanmu yang tercantik.”

Hal ini membuat Fannie langsung tersenyum dan pikiran tentang anak laki-laki dengan cepat menghilang dari dalam kepalanya.

Ellen kemudian menggulung syalnya di sekitar bahu, lalu mengambil lentera yang telah dinyalakan adiknya. Dengan menggandeng tangan kanan Fannie, mereka berdua berjalan pulang ke rumah mereka yang berjarak tiga mil dari sana. Hujan deras selama sepekan terakhir telah membuat jalan tanah tidak lagi dapat dilewati dengan berjalan kaki. Ellen dan putrinya terpaksa harus melewati jalan di sepanjang rel kereta. Trek tersebut dibangun di atas tumpukan batu kerikil setinggi setengah mil sehingga dapat digunakan oleh pejalan kaki di musim hujan. Treknya berliku-liku melewati pegunungan dan bukit. Begitu sampai di atas jalur kereta, Fannie dan ibunya segera berjalan ke arah rumah mereka. Ellen menceritakan kepada Fannie tentang tempat-tempat yang dilalui kereta di sana. Fannie senang mendengarkan cerita ibunya tentang kota-kota besar di tempat yang jauh. Dia hanya pernah ke kota beberapa kali dan tidak pernah berjalan keluar dari Wise County. Fannie ingat papanya pernah bercerita tentang saudaranya yang bernama Jack.

Paman Jack telah pergi meninggalkan Wise County dan juga Virginia. Sekarang dia berada di tempat yang jauh bernama Kuba. Dia kini sedang berjuang demi seseorang yang bernama Roosevelt. Dia penasaran tempat seperti apa Kuba, dan apakah tempat tersebut sama seperti tempat tinggalnya sekarang.

Sinar mentari kini telah terbenam sepenuhnya di balik pepohonan yang berbaris menyelimuti gunung. Kegelapan mulai merayap dari rimbunan pepohonan di sekeliling jalur kereta. Suara gemerisik semak-semak membuat Fannie terkejut setengah mati, namun suara ibunya yang menenangkan mengusir rasa takutnya.

“Tidak apa-apa, nak. Hanya rubah dan tupai.”

Teriakan suara burung hantu yang menggema dari dalam kegelapan membuat Fannie mengencangkan genggaman tangan yang digandeng ibunya.

Malam akhirnya menyelimuti seluruh tempat tersebut, dan satu-satunya yang dapat terlihat hanyalah cahaya lentera dan bayangan mereka sendiri. Bulan tak menghiasi malam, dan kerlipan cahaya bintang bersinar redup di antara gerakan awan. Fannie tersandung oleh kerikil yang berserakan di landasan rel kereta. Ellen baru tersadar bahwa putrinya kelelahan.

“Istirahatlah sebentar, anak manis. Setengah mil lagi kita akan tiba di rumah.”

Ellen meletakkan lenteranya di bawah. Mereka lalu mencari posisi duduk yang nyaman di atas bantalan rel.

“Mammy, aku takut gelap. Apakah Tuhan akan menjaga dan melindungi kita?”

“Ya, Fannie. Ingat apa yang dikatakan oleh pendeta di gereja tadi. ‘Tuhan yang Maha Pengasih akan selalu bersamamu, dan jika kau membutuhkan-Nya, maka sebutlah nama-Nya’. Atau kalau mau yang lebih baik lagi, lakukan seperti apa yang dulu sering ibu lakukan.”

“Apa itu, Mammy?”

“Ibu menyanyikan salah satu himne kesukaan ibu.” Ujar Ellen sambil mengelus rambut putrinya.

Ketika Fannie sedang merenungkan nasehat ibunya, dia dikejutkan oleh sebuah suara. Suara tersebut datang dari arah datangnya mereka, dan matanya menyisir ke dalam kegelapan yang pekat. Suara itu sunguh pelan, tapi tidak seperti suara apapun yang pernah didengarnya. Suara tersebut seperti suara langkah kaki seseorang yang berjalan mendekati mereka.

“Apa Mammy mendengarnya?”

“Mendengar apa, sayang?”

Fannie bergeser lebih dekat dengan ibunya dan berkata, “Suara seseorang yang berjalan mendekat!”

Ellen mendekap putrinya dan menjawab, “Itu hanya khayalanmu saja, Fannie. Kita sudah cukup istirahat. Ayo, jalan lagi. Nanti ayahmu cemas.”

Ellen mengambil lentera, dan menggandeng tangan Fannie. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa saat kemudian, suara yang membuat Fannie ketakutan kini terdengar lagi. Suara langkah kaki tersebut semakin jelas dan lebih dekat. Suara hentakan sepatu but yang berat menggema dari dalam kegelapan.

“Mammy, aku mendengarnya lagi!”

“Jangan teriak, nak.”

Ellen kemudian mengayun-ayunkan lenteranya.

“Lihat, tidak ada apa-apa, ‘kan?”

Fannie mengencangkan genggaman tangannya dan mengapit bonekanya dengan lebih kencang. Teriakan burung hantu menggaung dari kejauhan, dan angin malam membuat dedaunan bergemerisik.

“Masih ada bau hujan di udara,” ujar Ellen. “Angin juga hanya berhembus sedikit kencang. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah, sayang. Di sana belokan terakhir.”

Fannie merasa tenang mendengar suara ibunya, namun dari balik kegelapan di belakang mereka, suara langkah sepatu but semakin keras.

“Mammy, suaranya semakin dekat!”

Ellen mengayunkan lenteranya lagi dan berkata, “Nak, tidak ada apa-apa di sana. Begini saja, ayo kita bernyanyi ‘Tuhan yang Maha Mulia’”

Fannie bernyanyi bersama ibunya, tapi suaranya gemetar karena ketakutan saat suara langkah kaki tersebut semakin dekat. Dia tidak mengerti kenapa ibunya terlihat tidak tahu menahu dengan suara tersebut.

Nyanyian Ellen semakin kencang, dan di depan sana, sinar lampu rumah mereka mulai terlihat berkedip-kedip dari balik pepohonan. Saat mendengar gonggongan anjing di kejauhan, mereka berhenti bernyanyi.

“Lihat, nak? Kita hampir sampai. Tinker akan berlari menyambut kita. Dia dulu pernah mengejar harimau hutan. Dia akan memastikan kita sampai di rumah dengan selamat.”

“Kalau begitu, ayo kita berjalan lebih cepat, Mammy. Apa Mammy tidak dengar? Aku takut. Suara itu semakin dekat. Ayo kita lari!”

“Baiklah, nak, tapi lihat sendiri, ‘kan? Tidak ada apa-apa di sana.”

Ellen sekali lagi mengayunkan lenteranya dan ketika mereka semakin dekat dia berteriak, “Tinker! Ayo kemari!”

Tinker, sang anjing, segera berlari mendekati Fannie dan Ellen. Mereka berdua hampir bertabrakan dengan Tinker saat mereka berjalan turun dari jalur kereta.

“Ellen, apa itu kau?”

Hati Fannie membuncah gembira saat mendengar suara ayahnya dari dalam kegelapan.

“Ya, Lige. Maaf kami pulang larut. Kurasa aku berjalan agak cepat sehingga Fannie kelelahan.”

Elijah mengangkat putrinya, lalu menggendongnya sampai ke rumah mereka. Ketika sudah berada di dalam rumah, Ellen membantu Fannie melepaskan bajunya dan membawanya ke tempat tidur.

Suara percakapan orang tuanya terdengar dari arah dapur. Bahkan suara dengkuran kakak-kakaknya yang tidur di kamar sebelah membuat Fannie tersenyum dan bersyukur karena dia dan ibunya dapat sampai di rumah dengan selamat. Sebelum terlelap, Fannie mendengar suara ibunya.

“Lige, tadi aku mendengar suara langkah kaki seseorang. Aku tidak ingin membuat Fannie ketakutan, jadi aku tetap bernyanyi dan mengayun-ayunkan lentera dan mengatakan pada Fannie bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan. Tapi Lige, tepat sebelum kami turun dari jalur kereta, aku mengayunkan lentera untuk terakhir kalinya. Saat itulah aku melihat siapa yang sedang mengikuti kami. Aku melihat sosok seseorang. Seorang manusia tanpa kepala!”

[selesai]

Iklan

8 thoughts on “Hobnail

  1. Terjemahan yang apik sehingga rasa asli cerita ini betul-betul masih bisa disesap.
    Salut deh sama penerjemahnya dan penulis aslinya!
    It’s real thrill! ^^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s